Menakar Syahwat Politik di Balik Safari Lampung : Mengapa Jokowi Enggan Pensiun?

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 17:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung, H. Ma'ruf Abidin, M.Si.

i

Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung, H. Ma'ruf Abidin, M.Si.

Analogi Sejarah: Bayang-Bayang Shadow King dan Dinasti

Secara historis, keengganan penguasa untuk benar-benar melepaskan kendali bukanlah barang baru. Kita bisa berkaca pada sejarah pasca-Restorasi Meiji di Jepang, di mana muncul fenomena Insei atau “pemerintahan dari balik biara”. Dalam sistem tersebut, seorang Kaisar secara resmi turun takhta, namun tetap memegang kendali riil di balik layar untuk mendikte penerus dan mengamankan garis keturunan keluarganya.

Di panggung modern, manuver Jokowi ini juga mengingatkan kita pada strategi Lee Kuan Yew di Singapura atau Mahathir Mohamad di Malaysia pasca-mundur dari kursi perdana menteri. Mereka bertransformasi menjadi Senior Minister atau mentor politik yang tetap memiliki taring tajam untuk mengintervensi arah kebijakan negara dan menjaga dinasti politik mereka tetap relevan. Bedanya, di Indonesia, intervensi ini dilakukan secara informal melalui mobilisasi massa relawan di luar koridor institusi resmi.

Baca Juga:  1.142 Taruna KKP Dikerahkan ke Sumatera, Mendagri : Ini Praktik Riil

“Klaim bahwa safari ini steril dari kepentingan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka adalah pembodohan logika publik.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi mentor politik sekelas Jokowi, merawat konstituen agar tetap solid secara organik di daerah strategis adalah bentuk investasi defensif sekaligus ofensif:

Secara Defensif: Ini adalah perisai politik untuk menjaga posisi tawar (bargaining power) Gibran di kabinet saat ini agar tidak tergerus oleh dinamika koalisi.

Baca Juga:  Berau Percantik Labuan Cermin, Dorong Wisata Ramah Lingkungan

Secara Ofensif: Ini adalah langkah awal mengunci basis elektoral demi memuluskan suksesi kepemimpinan nasional di masa depan.

Bahaya Post-Power Syndrome Bagi Demokrasi
Secara institusional, fenomena “presiden membayangi presiden” ini mengirimkan sinyal bahaya bagi kesehatan demokrasi kita. Gerakan aktif Jokowi di lapangan mengonfirmasi gejala akut ketidakmampuan mantan penguasa untuk melepaskan takhta (post-power syndrome). Ketika seorang mantan presiden terus memelihara faksi massa secara mandiri, hal ini berisiko menciptakan dualisme patronase politik di tingkat bawah yang berpotensi memicu keretakan stabilitas pemerintahan yang sah.

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Laga Epik di Budapest: Arsenal Mengincar Sejarah Baru, PSG Siap Pertahankan Takhta Eropa
Menjaga Telaga Menjer, Menjaga Masa Depan
Mengurai Sampah di Wonosobo : Saatnya Beralih dari Masalah ke Momentum
Tusukan Maut RUU KUHAP : Negara Merampas Napas Keadilan Rakyat

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 17:46 WIB

Laga Epik di Budapest: Arsenal Mengincar Sejarah Baru, PSG Siap Pertahankan Takhta Eropa

Senin, 1 Juni 2026 - 17:37 WIB

Menakar Syahwat Politik di Balik Safari Lampung : Mengapa Jokowi Enggan Pensiun?

Jumat, 23 Januari 2026 - 07:53 WIB

Menjaga Telaga Menjer, Menjaga Masa Depan

Rabu, 26 November 2025 - 19:09 WIB

Mengurai Sampah di Wonosobo : Saatnya Beralih dari Masalah ke Momentum

Kamis, 20 November 2025 - 22:41 WIB

Tusukan Maut RUU KUHAP : Negara Merampas Napas Keadilan Rakyat

Berita Terbaru

Sudaryono saat dilantik sebagai Kepala BGN di Istana Negara Jakarta.

Nasional

Prabowo Resmi Lantik Sudaryono Jadi Kepala BGN

Rabu, 22 Jul 2026 - 21:23 WIB