JAKARTA, DiengPost.com — Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengapresiasi langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mengerahkan 1.142 taruna Politeknik Kelautan dan Perikanan untuk membantu percepatan penanganan dampak bencana di wilayah Sumatera.
Apresiasi tersebut disampaikan Tito saat menghadiri acara pelepasan taruna di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Acara pelepasan turut dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dan Wakil Menteri KP Didit Herdiawan Ashaf.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Menteri KP, Bapak Wamen, karena ini sangat berguna sekali,” ujar Tito.
Ia menyebutkan, sebelumnya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) telah mengirimkan lebih dari 1.000 praja, disusul Badan Pusat Statistik (BPS) dengan sekitar 500 personel. Dukungan KKP melalui pengiriman taruna dinilai sangat berarti dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
Tito juga mendorong para taruna untuk menjadikan penugasan ini sebagai praktik langsung penerapan ilmu kelautan dan perikanan. Ia menyoroti banyaknya tambak, nelayan, dan alur sungai yang terdampak lumpur dan sedimentasi akibat bencana.
“Ini adalah praktik betul-betul langsung riil, bukan teori,” tegasnya.
Sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi sejak akhir November 2025 telah berdampak pada tiga provins, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dampaknya meliputi korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada sektor pertanian dan perikanan.
Pemerintah pusat, atas arahan Presiden Prabowo Subianto, telah melakukan mobilisasi nasional dengan melibatkan kementerian/lembaga, TNI, Polri, BNPB, dan Basarnas. Dari 52 kabupaten/kota terdampak, sebagian telah pulih, sementara lainnya masih membutuhkan penanganan intensif.
Di wilayah dataran rendah seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Pidie Jaya, lumpur tebal menjadi kendala utama. Sementara di wilayah pegunungan, longsor memutus akses jalan dan jembatan. Tito menegaskan bahwa penanganan di lokasi sempit tidak bisa hanya mengandalkan alat berat, sehingga dibutuhkan tenaga fisik tambahan dari sekolah-sekolah kedinasan.
“Kalau ingin cepat, yang paling cepat adalah sekolah kedinasan,” pungkasnya.
Penulis : Adi
Editor : A. Nandar
































Tinggalkan Balasan