WONOSOBO, DiengPost.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi, dominasi budaya populer global, serta berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang semakin kompleks, keberlangsungan kebudayaan lokal menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam gelaran Kado Budaya 18 yang diselenggarakan PMII Wonosobo bersama Teater Banyu di Aula Al A’la Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, Jumat-Sabtu (19-20/6/2026).
Mengusung tema ‘Merawat Nyala, Merajut Kreativitas di Tengah Perubahan Zaman’, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi pelaku seni, mahasiswa, komunitas budaya, dan masyarakat untuk berdialog mengenai masa depan kebudayaan di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan menghadirkan sejumlah agenda, mulai dari pameran seni, diskusi kebudayaan, hingga pementasan teater yang mengangkat isu-isu sosial dan lingkungan.
Ahmad Nafa mengatakan Kado Budaya hadir sebagai ruang bersama bagi masyarakat untuk merawat dan mengembangkan kebudayaan melalui dialog serta karya-karya kreatif.
”Kado Budaya bertujuan menjadi ruang berkumpul bagi sedulur-sedulur budaya dan masyarakat untuk berdialog, berkarya, serta bersama-sama menjaga dan mengembangkan kebudayaan,” katanya.
Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini lahir dari kegelisahan terhadap posisi kebudayaan yang semakin terdesak oleh perubahan zaman. Di satu sisi, perkembangan teknologi membuka ruang baru bagi kreativitas, namun di sisi lain berpotensi menjauhkan masyarakat dari akar budaya lokal apabila tidak diimbangi dengan upaya pelestarian yang serius.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















Tinggalkan Balasan