Pementasan tersebut menjadi refleksi atas berbagai persoalan ekologis yang saat ini terjadi di banyak wilayah, termasuk kawasan pegunungan yang rentan terhadap kerusakan lingkungan. Ketika hutan terus berkurang dan ruang hidup menyempit, bukan hanya makhluk penghuni hutan yang kehilangan rumah, tetapi juga keseimbangan alam yang selama ini menopang kehidupan manusia.
Melalui lakon ‘DEMIT’, Teater Banyu mengajak penonton mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan alam. Pertunjukan itu sekaligus menjadi kritik terhadap praktik eksploitasi sumber daya yang kerap mengabaikan keberlanjutan lingkungan demi kepentingan ekonomi jangka pendek.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi saat ini ketika berbagai daerah menghadapi ancaman krisis lingkungan, mulai dari alih fungsi lahan, berkurangnya kawasan hutan, hingga meningkatnya risiko bencana ekologis. Di tengah situasi tersebut, seni dipandang memiliki peran penting sebagai medium penyadaran publik yang mampu menyampaikan kritik secara reflektif dan humanis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui Kado Budaya 18, Teater Banyu berharap kebudayaan tidak hanya dipahami sebagai warisan masa lalu yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu merespons tantangan zaman.
Sebab, di tengah perubahan yang semakin cepat, keberlangsungan budaya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga tradisi, melainkan juga keberanian menghadirkan gagasan baru yang berpihak pada kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.
Editor : A. Nandar
















Tinggalkan Balasan