8 Nov 2026
instagram youtube tiktok linkedin pinterest

8 Nov 2026

Kado Budaya ke 18 Soroti Tantangan Kebudayaan dan Krisis Lingkungan

- Penulis

Senin, 22 Juni 2026 - 07:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

gelaran Kado Budaya 18 yang diselenggarakan PMII Wonosobo bersama Teater Banyu di Aula Al A'la Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo, Jumat-Sabtu (19-20/6/2026).

i

gelaran Kado Budaya 18 yang diselenggarakan PMII Wonosobo bersama Teater Banyu di Aula Al A'la Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo, Jumat-Sabtu (19-20/6/2026).

‎Ia menjelaskan, makna ‘Merawat Nyala’ adalah menjaga semangat serta warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi. Sementara ‘Merajut Kreativitas’ dimaknai sebagai upaya mendorong lahirnya karya-karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi fondasinya.

‎Dalam rangkaian kegiatan, panitia menggelar dua forum diskusi bertajuk ‘Mengenal Lebih Dekat Kebudayaan Lokal Wonosobo’ dan ‘Peran Pelaku Seni dalam Menghadapi Ketidakstabilan Geopolitik’.

Diskusi pertama mengajak masyarakat mengenali kembali kekayaan budaya lokal yang dimiliki Wonosobo. Sedangkan diskusi kedua membahas posisi seni sebagai media refleksi dan kritik terhadap berbagai dinamika sosial yang terjadi di tingkat lokal maupun global.

Baca Juga:  Komisi Informasi Jateng Apresiasi Wonosobo atas Peningkatan Keterbukaan Informasi Publik 2025

‎”Kebudayaan harus menjadi ruang refleksi bersama. Di tengah perubahan yang cepat, masyarakat membutuhkan fondasi nilai yang kuat agar tidak kehilangan arah,” ujarnya.

‎Selain forum diskusi, perhatian peserta juga tertuju pada pementasan Teater Banyu berjudul ‘DEMIT’. Pertunjukan tersebut menyajikan kritik sosial mengenai keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam hingga mengancam keberlangsungan kehidupan di dalamnya.

Baca Juga:  Menghilang 2 Minggu, Kakek Asal Kalibawang Ditemukan Meninggal Dunia di Kebun Jahe Kaliwiro

‎Melalui pendekatan teater simbolik, lakon tersebut menceritakan tentang para demit atau penghuni hutan yang kehilangan rumah akibat pembukaan lahan dan perusakan kawasan hutan yang dilakukan manusia.

Sosok demit dalam pertunjukan itu tidak semata dipahami sebagai makhluk gaib dalam cerita rakyat, melainkan simbol dari alam yang selama ini terus terdesak oleh kepentingan ekonomi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Bareskrim Polri Tetapkan 245 Tersangka Perorangan dan 20 Korporasi Kasus Karhutla
Bareskrim Polri Ungkap Gudang Impor Ilegal Pakaian Bekas di Subang, Sita 1.257 Bal Senilai Rp15 Miliar
Cari Layanan Imigrasi di Luar Kantor Kini Lebih Mudah, Seluruhnya Bernama Beranda Imigrasi
Tata Kelola Pupuk Bersubsidi Makin Mudah, Petani Sambut Positif Penurunan Harga
KPK Duga Korupsi Dana Siap Pakai BNPB Terjadi Sejak 2022
PNBP Imigrasi Tembus Rp 8,68 Triliun, Lampaui Target 2026
Penanganan Karhutla, Pemerintah Fokus Padamkan 639 Hektare Lahan
Warga Lampung Selatan Hilang Saat Memancing di Kolam Bekas Galian Pasir, Ditemukan Meninggal Dunia

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 23:59 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan 245 Tersangka Perorangan dan 20 Korporasi Kasus Karhutla

Senin, 2 November 2026 - 23:56 WIB

Bareskrim Polri Ungkap Gudang Impor Ilegal Pakaian Bekas di Subang, Sita 1.257 Bal Senilai Rp15 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Cari Layanan Imigrasi di Luar Kantor Kini Lebih Mudah, Seluruhnya Bernama Beranda Imigrasi

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:52 WIB

Tata Kelola Pupuk Bersubsidi Makin Mudah, Petani Sambut Positif Penurunan Harga

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:39 WIB

PNBP Imigrasi Tembus Rp 8,68 Triliun, Lampaui Target 2026

Berita Terbaru