Ia menjelaskan, makna ‘Merawat Nyala’ adalah menjaga semangat serta warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi. Sementara ‘Merajut Kreativitas’ dimaknai sebagai upaya mendorong lahirnya karya-karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi fondasinya.
Dalam rangkaian kegiatan, panitia menggelar dua forum diskusi bertajuk ‘Mengenal Lebih Dekat Kebudayaan Lokal Wonosobo’ dan ‘Peran Pelaku Seni dalam Menghadapi Ketidakstabilan Geopolitik’.
Diskusi pertama mengajak masyarakat mengenali kembali kekayaan budaya lokal yang dimiliki Wonosobo. Sedangkan diskusi kedua membahas posisi seni sebagai media refleksi dan kritik terhadap berbagai dinamika sosial yang terjadi di tingkat lokal maupun global.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Kebudayaan harus menjadi ruang refleksi bersama. Di tengah perubahan yang cepat, masyarakat membutuhkan fondasi nilai yang kuat agar tidak kehilangan arah,” ujarnya.
Selain forum diskusi, perhatian peserta juga tertuju pada pementasan Teater Banyu berjudul ‘DEMIT’. Pertunjukan tersebut menyajikan kritik sosial mengenai keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam hingga mengancam keberlangsungan kehidupan di dalamnya.
Melalui pendekatan teater simbolik, lakon tersebut menceritakan tentang para demit atau penghuni hutan yang kehilangan rumah akibat pembukaan lahan dan perusakan kawasan hutan yang dilakukan manusia.
Sosok demit dalam pertunjukan itu tidak semata dipahami sebagai makhluk gaib dalam cerita rakyat, melainkan simbol dari alam yang selama ini terus terdesak oleh kepentingan ekonomi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















Tinggalkan Balasan