Sampah Menumpuk di Negeri Sejuk
Kabupaten Wonosobo dikenal karena pesona alamnya, kabut yang turun di lereng Dieng, udara dingin yang memeluk pagi, dan hamparan kebun teh yang menenangkan mata. Namun di balik keindahan itu, tersembunyi ancaman yang semakin nyata gunungan sampah yang terus meninggi.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo menunjukkan bahwa volume sampah mencapai lebih dari 100 ton per hari, dengan tren meningkat setiap tahunnya. Dari jumlah itu, sebagian besar masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonorejo, yang kini sudah mendekati kapasitas maksimum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kondisi hujan lebat, longsoran timbunan sampah pernah terjadi, menciptakan risiko pencemaran air dan udara bagi warga sekitar. Masalah sampah di Wonosobo bukan lagi sekadar isu teknis tentang kebersihan. Ia telah menjelma menjadi masalah sosial, ekonomi, dan tata kelola lingkungan.
Ironisnya, berbagai program sudah berjalan dari bank sampah, TPS-3R, Pusat Daur Ulang (PDU), hingga proyek percontohan Refuse Derived Fuel (RDF) tetapi hasilnya belum optimal.
Mengapa program penanganan sampah
belum efektif? Jika ditelusuri lebih dalam, ada beberapa penyebab mengapa berbagai intervensi itu belum membawa perubahan signifikan:
1. Koordinasi antar lembaga belum kuat
Pengelolaan sampah masih terpusat pada DLH, sementara peran kecamatan, desa, dan sektor swasta belum optimal. Tidak ada mekanisme koordinasi yang rutin antar-OPD, padahal isu sampah menyangkut aspek perencanaan, infrastruktur, hingga pendidikan masyarakat.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya
































Tinggalkan Balasan