Laskar Santri Nusantara Serukan Etika Bahasa Publik, Pemerintah Diminta Gunakan Diksi yang Beradab

- Penulis

Sabtu, 1 November 2025 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional Laskar Santri Nusantara, Didik Setiawan.

i

Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional Laskar Santri Nusantara, Didik Setiawan.

JAKARTA – Laskar Santri Nusantara menyerukan pentingnya etika bahasa publik dalam komunikasi resmi pemerintah dan pemberitaan media. Organisasi ini menilai sejumlah diksi dan tema kegiatan yang digunakan dalam wacana publik belum sepenuhnya mencerminkan adab, empati, dan sensitivitas sosial.

Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional Laskar Santri Nusantara, Didik Setiawan mengatakan, bahwa penggunaan istilah seperti ‘pemuda miskin ekstrem’, ‘kelompok rentan tertinggal’ atau narasi tentang ‘pesantren tradisional yang perlu
dimodernisasi’ berpotensi menimbulkan stigma dan melukai perasaan masyarakat.

Baca Juga:  Strategi Fiskal 2025 Ditetapkan, Pemerintah Fokus Efisiensi Anggaran dan Pertumbuhan Ekonomi

“Bahasa adalah cermin keadaban bangsa. Kami para santri dan pemuda tidak menolak kritik, tetapi menginginkan setiap kebijakan dan komunikasi publik disampaikan dengan adab, bukan penghakiman,” ujar Didik, Sabtu (01/11/2025).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Didik, bahasa publik menggambarkan sejauh mana moralitas dan empati hadir dalam penyusunan kebijakan. Dalam tradisi pesantren, tutur kata tidak hanya sekadar alat komunikasi, melainkan representasi akhlak dan kecerdasan sosial. Oleh karena itu, ia menilai penting bagi setiap pejabat publik, juru bicara pemerintah, maupun perencana kebijakan untuk menyampaikan pesan dengan empati.

Baca Juga:  Tanah Longsor di Majenang Cilacap : Dua Tewas, 21 Warga Masih Hilang

“Setiap kata yang diucapkan pejabat publik memiliki dampak sosial dan psikologis. Pemerintah bertanggung jawab memastikan narasi publik disampaikan dengan penghormatan terhadap martabat manusia,” tegasnya.

Laskar Santri Nusantara juga menyoroti kecenderungan pelabelan negatif terhadap pemuda dan pesantren dalam sejumlah program pemerintah. Menurut organisasi tersebut, pemuda seharusnya dipandang sebagai agen perubahan, bukan kelompok ‘miskin ekstrem’.

Penulis : Adi

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Viral Kesalahan Juri, MPR Minta Maaf Atas Insiden Penilaian LCC Empat Pilar 2026 Kalbar
Kemendikdasmen Beri Kepastian Nasib Guru Non-ASN hingga 2026
Cegah Pola Berulang Kasus Pencabulan Santriwati Pati, Satgas Khusus Pesantren Mendesak Dibentuk
Kasus Pencabulan Santriwati Pati: Polresta Pati Periksa Pengasuh Ponpes yang Jadi Tersangka
KRI Bima Suci Tiba di Singapura: Kapal Latih TNI AL Perkuat Diplomasi Maritim
Fakta Baru Kekerasan Daycare Yogyakarta: Pengasuh Sebut Ada Perintah Atasan
Kasus Kekerasan Daycare Yogyakarta: Polisi Tetapkan 13 Tersangka Termasuk Pengelola
Update Kasus Penganiayaan Anak di Banda Aceh: Enam Saksi Beri Keterangan

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:37 WIB

Viral Kesalahan Juri, MPR Minta Maaf Atas Insiden Penilaian LCC Empat Pilar 2026 Kalbar

Sabtu, 9 Mei 2026 - 19:51 WIB

Kemendikdasmen Beri Kepastian Nasib Guru Non-ASN hingga 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:16 WIB

Cegah Pola Berulang Kasus Pencabulan Santriwati Pati, Satgas Khusus Pesantren Mendesak Dibentuk

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:23 WIB

Kasus Pencabulan Santriwati Pati: Polresta Pati Periksa Pengasuh Ponpes yang Jadi Tersangka

Kamis, 30 April 2026 - 10:43 WIB

Fakta Baru Kekerasan Daycare Yogyakarta: Pengasuh Sebut Ada Perintah Atasan

Berita Terbaru