Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II, Dapil Jawa Tengah VI
Menjaga Air, Menjaga Nurani: Catatan dari Telaga Menjer
Ada lanskap yang tak pernah meminta apa-apa selain dijaga, Telaga Menjer adalah salah satunya. Di lingkar pegunungan Dieng, Telaga ini selama puluhan tahun bekerja sunyi, yaitu menahan air hujan, menenangkan aliran, dan memberi kehidupan bagi warga di sekitarnya. Namun hari-hari ini, ketenangan itu retak, bukan oleh alam, melainkan oleh keputusan manusia.
Gambar-gambar yang viral dari Desa Maron, Garung, Wonosobo, Jawa Tengah bukan sekadar soal pemandangan yang berubah. Ia adalah penanda arah. Bangunan-bangunan komersial tumbuh di kawasan tangkapan air, wilayah yang semestinya dilindungi, tetapi menggerus sempadan, memotong infiltrasi, dan mempercepat sedimentasi. Air yang dahulu jernih kini mudah keruh selepas hujan, lereng yang dulu menyerap kini mengalirkan lumpur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kecurigaan warga tentang pembiaran tak lahir dari prasangka, melainkan dari pengalaman. Ketika garis larangan menjadi ruang tawar, ketika izin tak jelas namun bangunan tetap berdiri, kepercayaan publik pun terkikis. Padahal tata ruang adalah janji antargenerasi. ia memastikan pembangunan hari ini tidak menagih bencana esok hari.
Kita perlu jujur pada diri sendiri. Pariwisata yang dikejar cepat tanpa prasyarat ekologis hanya memindahkan biaya ke masa depan. Telaga vulkanik seperti Menjer memiliki daya dukung terbatas.
Sekali fungsi hidrologisnya rusak, ongkos pemulihan jauh melampaui pemasukan jangka pendek. Yang terancam bukan hanya ekosistem, tetapi keselamatan warga. Mulai banjir bandang di hilir, longsor lereng, dan penurunan kualitas air yang kembali ke dapur keluarga.
Karena itu, seruan warga agar pemerintah daerah segera melakukan audit lingkungan patut disambut sebagai ajakan menata ulang arah, bukan ditafsirkan sebagai penolakan terhadap usaha.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 Selanjutnya
































Tinggalkan Balasan