Audit yang menyeluruh, kepatuhan sempadan danau, status perizinan, beban bangunan terhadap lereng, hingga proyeksi sedimentasi perlu dilakukan dan diumumkan secara terbuka. Penertiban bangunan liar yang melanggar tata ruang adalah langkah awal untuk memulihkan keadilan ekologis.
Namun penertiban saja tak cukup, Menjer membutuhkan kebijakan yang menyeimbangkan keberanian dan empati. Moratorium pembangunan baru di zona rawan, pemulihan vegetasi penutup dengan spesies lokal, model wisata berjejak rendah yang mengutamakan fasilitas non-permanen serta insentif bagi warga yang menjaga tutupan lahan.
Pemantauan berkala kualitas air dan erosi harus menjadi kebiasaan, agar keputusan berdiri di atas data, bukan sekadar reaksi atas viralitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada akhirnya, ini bukan perkara danau semata. Ini perkara nurani. Alam tidak bersuara, tetapi ia memberi tanda. Menjer sedang berbicara melalui air yang keruh dan lereng yang rapuh. Mari kita menjawabnya dengan kebijakan yang tegas dan hati yang jernih, agar pembangunan tetap berjalan, namun kehidupan tetap berlanjut.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2
































Tinggalkan Balasan