14 Sep 2026
instagram youtube tiktok linkedin pinterest

14 Sep 2026

Kado Budaya ke 18 Soroti Tantangan Kebudayaan dan Krisis Lingkungan

- Penulis

Senin, 22 Juni 2026 - 07:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

gelaran Kado Budaya 18 yang diselenggarakan PMII Wonosobo bersama Teater Banyu di Aula Al A'la Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo, Jumat-Sabtu (19-20/6/2026).

i

gelaran Kado Budaya 18 yang diselenggarakan PMII Wonosobo bersama Teater Banyu di Aula Al A'la Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo, Jumat-Sabtu (19-20/6/2026).

‎Ia menjelaskan, makna ‘Merawat Nyala’ adalah menjaga semangat serta warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi. Sementara ‘Merajut Kreativitas’ dimaknai sebagai upaya mendorong lahirnya karya-karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi fondasinya.

‎Dalam rangkaian kegiatan, panitia menggelar dua forum diskusi bertajuk ‘Mengenal Lebih Dekat Kebudayaan Lokal Wonosobo’ dan ‘Peran Pelaku Seni dalam Menghadapi Ketidakstabilan Geopolitik’.

Diskusi pertama mengajak masyarakat mengenali kembali kekayaan budaya lokal yang dimiliki Wonosobo. Sedangkan diskusi kedua membahas posisi seni sebagai media refleksi dan kritik terhadap berbagai dinamika sosial yang terjadi di tingkat lokal maupun global.

Baca Juga:  Komisi Informasi Jateng Apresiasi Wonosobo atas Peningkatan Keterbukaan Informasi Publik 2025

‎”Kebudayaan harus menjadi ruang refleksi bersama. Di tengah perubahan yang cepat, masyarakat membutuhkan fondasi nilai yang kuat agar tidak kehilangan arah,” ujarnya.

‎Selain forum diskusi, perhatian peserta juga tertuju pada pementasan Teater Banyu berjudul ‘DEMIT’. Pertunjukan tersebut menyajikan kritik sosial mengenai keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam hingga mengancam keberlangsungan kehidupan di dalamnya.

Baca Juga:  Menghilang 2 Minggu, Kakek Asal Kalibawang Ditemukan Meninggal Dunia di Kebun Jahe Kaliwiro

‎Melalui pendekatan teater simbolik, lakon tersebut menceritakan tentang para demit atau penghuni hutan yang kehilangan rumah akibat pembukaan lahan dan perusakan kawasan hutan yang dilakukan manusia.

Sosok demit dalam pertunjukan itu tidak semata dipahami sebagai makhluk gaib dalam cerita rakyat, melainkan simbol dari alam yang selama ini terus terdesak oleh kepentingan ekonomi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU 2026-2031, Ini Profil dan Jejak Perjuangannya di Nahdlatul Ulama
JATMAN Gelar Istighatsah dan Manaqib Kubro Sambut Muktamar NU ke-35
Katib Syuriyah PBNU Ajak Peserta Muktamar Jombang Jaga Kemandirian Organisasi
Cari Solusi Baru, Presiden Prabowo Dorong Terobosan Penanganan Karhutla
KPK OTT Rektor Unsoed Terkait Dugaan Pemerasan Penerimaan Mahasiswa FK
Pejabat Kampus Terjaring OTT ke-19, Rektor Unsoed Dibawa KPK
Presiden Prabowo Subianto Tinjau Lokasi Kebakaran Hutan di Kubu Raya Kalimantan
Prabowo Resmi Lantik Sudaryono Jadi Kepala BGN

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU 2026-2031, Ini Profil dan Jejak Perjuangannya di Nahdlatul Ulama

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:55 WIB

JATMAN Gelar Istighatsah dan Manaqib Kubro Sambut Muktamar NU ke-35

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:37 WIB

Cari Solusi Baru, Presiden Prabowo Dorong Terobosan Penanganan Karhutla

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:53 WIB

KPK OTT Rektor Unsoed Terkait Dugaan Pemerasan Penerimaan Mahasiswa FK

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:12 WIB

Pejabat Kampus Terjaring OTT ke-19, Rektor Unsoed Dibawa KPK

Berita Terbaru