WONOSOBO – Dalam setiap perayaan pernikahan adat Jawa, kehadiran lemper bukan sekadar pelengkap meja jamuan, melainkan simbol kehangatan, harapan, dan ikatan yang erat antara dua keluarga.
Lemper, makanan tradisional berbahan dasar ketan dengan isian ayam suwir atau abon, dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi hajatan di berbagai daerah Indonesia.
- Filosofi Lemper dalam Pernikahan
Nama ‘lemper’ diyakini berasal dari kata ‘lempit’ atau ‘lempet’ yang berarti menyatu atau melekat. Filosofi ini mencerminkan harapan agar pasangan pengantin selalu rukun, lengket dalam kebersamaan, dan tidak mudah terpisahkan. Bungkus daun pisang yang membalut ketan juga melambangkan kesederhanaan dan kehangatan dalam rumah tangga yang baru dibangun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Lemper sebagai Simbol Keharmonisan
Dalam budaya Jawa, makanan yang disajikan saat pernikahan bukan hanya soal rasa, tetapi juga doa dan makna. Lemper menjadi simbol keharmonisan dan keakraban, karena proses pembuatannya yang membutuhkan ketelatenan dan kebersamaan.
Ketan yang lengket menggambarkan eratnya hubungan antar anggota keluarga, sementara isian ayam atau abon melambangkan rezeki dan keberkahan.
Penulis : Adi
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 Selanjutnya
































Tinggalkan Balasan