WONOSOBO – Konsumsi gula berlebih menjadi salah satu tantangan besar dalam pola makan masyarakat modern. Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, asupan gula yang melebihi batas harian dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan fisik dan mental.
Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa batas aman konsumsi gula tambahan adalah tidak lebih dari 10% dari total kebutuhan energi harian, atau sekitar 25 gram (6 sendok teh) per hari untuk orang dewasa. Sayangnya, rata-rata konsumsi masyarakat Indonesia telah melampaui ambang tersebut.
Dampak Konsumsi Gula Berlebih pada Anak-Anak
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Obesitas Anak
Menurut Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada anak usia 5–12 tahun di Indonesia mencapai 18,8%. Salah satu penyebab utama adalah tingginya konsumsi makanan dan minuman manis, seperti permen, kue, dan minuman bersoda.
2. Gangguan Konsentrasi dan Perilaku
Studi dari American Journal of Psychiatry menunjukkan bahwa lonjakan kadar gula dalam darah dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi di sekolah.
3. Risiko Diabetes Tipe 2 Dini
Dulu diabetes tipe 2 umumnya ditemukan pada orang dewasa. Kini, anak-anak juga mulai mengalaminya karena pola makan tinggi gula dan rendah aktivitas fisik.
4. Kerusakan Gigi
Konsumsi makanan manis tanpa kebiasaan menyikat gigi yang baik mempercepat kerusakan enamel dan meningkatkan risiko gigi berlubang.
Dampak Konsumsi Gula Berlebih pada Orang Dewasa
1. Peningkatan Risiko Penyakit Jantung
Gula berlebih dalam jangka panjang dapat meningkatkan kadar trigliserida dan tekanan darah, dua faktor risiko utama penyakit jantung.
2. Diabetes dan Resistensi Insulin
Tingginya asupan gula menyebabkan pankreas bekerja ekstra untuk memproduksi insulin. Dalam jangka panjang, ini bisa memicu resistensi insulin dan akhirnya diabetes tipe 2.
3. Kelebihan Berat Badan dan Obesitas
Minuman tinggi gula seperti soda dan teh manis tidak memberikan rasa kenyang, namun menambah kalori secara signifikan. Ini memperbesar peluang obesitas.
4. Penuaan Dini
Tingginya kadar gula darah dapat merusak kolagen dan elastin, dua protein penting untuk kesehatan kulit, sehingga mempercepat proses penuaan.
5. Masalah Mood dan Kesehatan Mental
Beberapa studi mengaitkan konsumsi gula berlebih dengan peningkatan risiko depresi dan gangguan kecemasan, terutama jika disertai pola makan tidak seimbang.
Mengapa Gula Sulit Dihindari?
Banyak produk olahan mengandung gula tersembunyi, termasuk dalam saus, roti, yogurt, dan sereal. Bahkan produk yang tampak “sehat” sekalipun bisa mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi.
Label seperti ‘fruktosa’, ‘sirup jagung tinggi fruktosa’, ‘maltosa’, dan ‘sukrosa’ adalah nama lain dari gula yang sering tidak disadari konsumen.
Cara Mengurangi Konsumsi Gula Berlebih
Periksa label gizi sebelum membeli makanan kemasan.
1. Kurangi minuman manis, ganti dengan air putih atau infused water.
2. Perbanyak konsumsi buah segar, bukan jus dalam kemasan.
3. Batasi camilan manis dan pilih kudapan tinggi serat atau protein.
4. Edukasi anak sejak dini tentang makanan sehat dan risiko gula.
Membatasi konsumsi gula bukan hanya tanggung jawab individu, tapi juga perlu dukungan keluarga, sekolah, industri makanan, hingga kebijakan pemerintah. Kesadaran akan bahaya konsumsi gula berlebih harus dimulai sejak dini agar anak-anak tumbuh sehat dan orang dewasa terhindar dari risiko penyakit kronis.
Editor : A. Nandar
































Tinggalkan Balasan