JAKARTA, DiengPost.com – Kementerian Agama (Kemenag) memberikan gambaran awal mengenai Penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah. Berdasarkan hitungan hisab, posisi hilal pada akhir Ramadan tahun ini kemungkinan besar belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS.
Direktur Urusan Agama Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa ketinggian hilal saat ini masih berada pada kisaran 0 hingga 3 derajat. Sementara itu, wilayah Aceh mencatatkan posisi tertinggi namun tetap dengan angka elongasi yang terbatas.
Arsad memaparkan bahwa standar MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Meskipun ketinggian hilal hampir mendekati syarat, namun aspek elongasi saat ini masih belum mencapai batas minimal tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi ini memicu peluang adanya perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau waktu hari raya antara pemerintah dan Muhammadiyah.
“Kalau berdasarkan kriteria MABIMS, memang masih belum memungkinkan untuk bisa melihat hilal,” tutur Arsad pada Senin.
Meskipun begitu, Kemenag tetap akan menyelenggarakan Sidang Isbat untuk mengambil keputusan final. Pemerintah menjadwalkan agenda krusial tersebut pada 19 Maret 2026 guna memastikan awal bulan Syawal secara resmi.
Perbandingan Versi Muhammadiyah dan Analisis BRIN
Muhammadiyah sendiri sudah menetapkan lebih awal bahwa Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Organisasi ini mendasarkan keputusannya pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mereka anut.
Editor : A. Nandar
Sumber Berita: ANTARA
Halaman : 1 2 Selanjutnya
































Tinggalkan Balasan