Berdasarkan catatan dalam Ensiklopedia NU, jurnalis Panda Nababan yang meliput langsung peristiwa tersebut menggambarkan kondisi Losarang pascakejadian penuh kehancuran, dengan rumah dan masjid dibakar.
Tragedi lain juga terjadi pada Pemilu 1977, ketika Kiai Hasan Basri di Brebes ditemukan tewas dengan dugaan kekerasan. Harian Pelita kala itu menulis kronologi yang berbeda dari penjelasan pemerintah.
Gus Mus juga mengingatkan dinamika antara NU dan pemerintah yang berulang di era Orde Baru, termasuk saat Muktamar Ke-29 NU di Cipasung, Tasikmalaya, pada 1994. Dalam pertemuan itu, ada upaya kooptasi terhadap NU melalui dukungan kepada kandidat tertentu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Buku Konflik Elit PBNU Seputar Muktamar karya Choirul Anam (2010) mencatat bahwa calon tandingan mendapat dukungan dari pemerintah dengan imbalan bantuan terhadap beberapa pesantren.
Ketegangan berlanjut hingga tahun 1996 ketika Menteri Riset dan Teknologi saat itu, BJ Habibie, meminta KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU.
Permintaan tersebut disampaikan melalui Soetjipto Wirosardjono dengan alasan menjaga ‘kepentingan NU’, sebuah ungkapan yang kemudian menimbulkan kontroversi.
Editor : A. Nandar
Sumber Berita: NU Online
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya
















Tinggalkan Balasan