Ketua Tanfidziyah PCNU Purworejo, KH Haikal, memandang kesenian Dolalak bukan hanya seni pertunjukan, melainkan media dakwah berbasis budaya. Menurutnya, dakwah kultural mampu menggugah kesadaran spiritual masyarakat tanpa meninggalkan akar tradisi.
Wakil Ketua Lesbumi PCNU Purworejo, Achmad Fajar Chalik, menyebut Tuladha sebagai ruang penciptaan nilai atau laboratorium rasa bagi seniman dan masyarakat.
“Tuladha lahir untuk menumbuhkan kembali kesadaran budaya dengan landasan ajaran Aswaja. Kami ingin mengembalikan Dolalak ke posisinya sebagai tuntunan, bukan sekadar tontonan,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan, dalam syair dan gerak Dolalak tersimpan nilai moral yang relevan untuk generasi muda, mulai dari disiplin, spiritualitas, hingga kebersamaan sosial. Karena itu, menurutnya, pelestarian kesenian Dolalak memerlukan pendekatan epistemik dengan memadukan riset, pendidikan, dan dakwah kebudayaan.
Forum budaya Tuladha#2 juga menjadi wadah kolaborasi antar komunitas. Sejumlah akademisi dan praktisi hadir, termasuk Dr. Sudibyo, M.Hum. dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta tokoh dari Dewan Kesenian Purworejo, LSBO Muhammadiyah, dan berbagai komunitas seni lokal.
Pelaku kesenian Dolalak seperti Bu Eni dari Dolalak Arum Sari dan Bapak Jono dari Dolalak Budi Santosa turut menampilkan karya dan berbagi cerita tentang dinamika regenerasi seniman Dolalak di era modern.
Penulis : Adi
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
































Tinggalkan Balasan