Dalam pertunjukan utama, penonton disuguhi rangkaian tari kolosal bunga rampai yang menampilkan kekayaan gerak dari berbagai daerah, seperti Tari Jejer Jaran Dawuk (Jawa Timur), Tari Rantak (Sumatera Barat), Tari Ngabayotn (Kalimantan), Tari Hegong (Nusa Tenggara Timur), Beksan Menak Tripama (Yogyakarta), dan Tari Gladhen (Purworejo).
Sebagai penutup, ditampilkan Tari Dolalak dalam Keberagaman Budaya Nusantara dan karya terbaru berjudul Dolalak Sekaring Jagad, komposisi yang memadukan unsur tradisi dengan garapan modern khas Sanggar Tari Prigel.
Melania menjelaskan bahwa karya-karya tersebut merupakan hasil latihan dan riset panjang selama setahun terakhir guna menyesuaikan nilai budaya klasik dengan ekspresi tari kontemporer.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin seni tradisi tetap hidup dan bisa dikagumi lintas generasi,” katanya.
Melania menyebut, momentum perayaan empat dekade ini menjadi pengingat pentingnya pelestarian lewat pendidikan seni lintas usia.
“Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda, semakin mencintai budaya lokal. Dengan begitu, warisan leluhur dapat tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman,” tuturnya
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
































Tinggalkan Balasan