Menakar Syahwat Politik di Balik Safari Lampung : Mengapa Jokowi Enggan Pensiun?

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 17:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung, H. Ma'ruf Abidin, M.Si.

i

Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung, H. Ma'ruf Abidin, M.Si.

Ulasan Opini Oleh: H. Ma’ruf Abidin, M.Si (Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung)

LAMPUNG TIMUR – Janji Joko Widodo untuk menikmati masa tua dengan tenang sembari mengemong cucu di Solo tampaknya harus runtuh oleh kenyataan. Rencana “turun gunung” Presiden ke-7 RI tersebut ke Provinsi Lampung pada akhir Juni 2026 memicu skeptisisme publik.

Mengapa seorang mantan panglima eksekutif begitu agresif melakukan penetrasi elektoral ke daerah, justru ketika estafet kepemimpinan nasional telah resmi beralih?

Narasi resmi yang diamplifikasi oleh mesin relawan, seperti Barisan Rakyat Nusantara (BRN) terdengar sangat klise dan sentimental. Agenda ini diklaim murni sebagai ekspresi kerinduan, silaturahmi, dan kunjungan balasan bagi warga Lampung yang pernah menyambanginya di Sumber, Solo.

Namun, dalam anatomi politik praktis, tidak ada panggung tanpa kalkulasi, dan tidak ada mobilisasi massa tanpa motif kekuasaan. Membungkus penetrasi politik berkedok “karnaval budaya” dan “jalan sehat” hanyalah eufemisme naif untuk menutupi konsolidasi kekuatan yang nyata di tingkat akar rumput.

Komodifikasi Mantan Presiden dan Penyelamatan PSI

Sinyal paling benderang dari syahwat politik ini adalah keterlibatan mutlak Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam safari tersebut. Alih-alih menempatkan diri sebagai negarawan senior (elder statesman) yang berdiri netral mengayomi seluruh elemen bangsa, Jokowi justru memilih “turun kelas” menjadi promotor utama (booster) sebuah partai politik partisan.

Baca Juga:  FORKI Lampung Gelar Gubernur Cup, Seleksi Atlet Menuju Kejurnas Karate

Langkah mendampingi struktur PSI di Lampung memperlihatkan bias kepentingan yang sangat telanjang: sebuah operasi penyelamatan darurat untuk partai yang kini dinakhodai oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

Fenomena ini melahirkan preseden buruk bagi etika politik pasca-presidensial (post-presidential etiquette) di Indonesia. Publik disuguhi tontonan di mana marwah mantan kepala negara dikomodifikasi secara pragmatis demi kepentingan faksional. Eksploitasi geopolitik Lampung seolah menjadi harga mati agar PSI tidak kembali menjadi partai gurem yang gagal menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold) pada Pemilu 2029 mendatang.

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Laga Epik di Budapest: Arsenal Mengincar Sejarah Baru, PSG Siap Pertahankan Takhta Eropa
Menjaga Telaga Menjer, Menjaga Masa Depan
Mengurai Sampah di Wonosobo : Saatnya Beralih dari Masalah ke Momentum
Tusukan Maut RUU KUHAP : Negara Merampas Napas Keadilan Rakyat

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 17:46 WIB

Laga Epik di Budapest: Arsenal Mengincar Sejarah Baru, PSG Siap Pertahankan Takhta Eropa

Senin, 1 Juni 2026 - 17:37 WIB

Menakar Syahwat Politik di Balik Safari Lampung : Mengapa Jokowi Enggan Pensiun?

Jumat, 23 Januari 2026 - 07:53 WIB

Menjaga Telaga Menjer, Menjaga Masa Depan

Rabu, 26 November 2025 - 19:09 WIB

Mengurai Sampah di Wonosobo : Saatnya Beralih dari Masalah ke Momentum

Kamis, 20 November 2025 - 22:41 WIB

Tusukan Maut RUU KUHAP : Negara Merampas Napas Keadilan Rakyat

Berita Terbaru