JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pengelolaan sumber daya alam (SDA) secara optimal berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen. Hal ini disampaikan dalam program Nusantara Economic Update yang disiarkan Nusantara TV belum lama ini.
Menurut Suahasil, kekayaan SDA yang melimpah merupakan modal besar jika dikombinasikan dengan kebijakan hilirisasi dan peningkatan produktivitas sektor manufaktur.
“Yang penting kita kelola sumber daya alam ini, bukan sekadar mendata. Kalau bisa dikelola dan dilakukan hilirisasi, maka kita bisa menciptakan nilai tambah yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Suahasil menyebut hilirisasi SDA harus selaras dengan pembangunan infrastruktur dan peningkatan mutu sumber daya manusia. Tanpa kedua faktor tersebut, target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi sulit dicapai.
“Ketika hilirisasi berjalan dan sektor manufaktur berkembang, efek pengganda terhadap lapangan kerja dan konsumsi domestik akan meningkat signifikan. Itu sebabnya, investasi menjadi elemen strategis dalam transisi ekonomi nasional,” kata Suahasil.
Pemerintah, lanjutnya, terus menciptakan iklim investasi kondusif agar pengelolaan SDA berjalan optimal dan tenaga kerja nasional mendapat peningkatan keahlian. Langkah ini diharapkan mendorong produktivitas dan efisiensi ekonomi di berbagai sektor, dari energi hingga industri pengolahan.
Selain isu domestik, Suahasil juga menyoroti tantangan eksternal yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, seperti fluktuasi harga komoditas global, ketegangan geopolitik, serta volatilitas nilai tukar. Karena itu, pemerintah menyiapkan desain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih adaptif.
“APBN selalu kita desain sebagai alat mencapai tujuan, dan sebagai alat, dia harus fleksibel. Karena perekonomian Indonesia menghadapi berbagai guncangan, baik dari luar maupun dalam negeri,” tegas Suahasil.
Sebagai contoh kebijakan fiskal, pemerintah terus mengalokasikan subsidi energi dan kompensasi harga untuk menjaga daya beli masyarakat. Dengan total belanja mencapai Rp3.500 triliun atau sekitar 14 persen dari PDB, APBN diharapkan tetap menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi dan perlindungan sosial masyarakat.
Suahasil menambahkan, koordinasi lintas lembaga juga menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah bersama Bank Indonesia dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memperkuat kolaborasi kebijakan fiskal dan moneter.
“Kolaborasi antara pemerintah dan Bank Indonesia sangat menentukan dalam menjaga momentum pertumbuhan. Sinergi ini akan terus kami kalibrasi untuk merespons tekanan global dan memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berkelanjutan,” ujar Suahasil.
Mengelola sumber daya alam Indonesia secara produktif, memperluas hilirisasi, dan menyiapkan struktur ekonomi yang tangguh menjadi strategi utama pemerintah dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen.
Pemerintah berharap peran sektor industri, investasi hijau, serta efisiensi anggaran publik dapat menjadi fondasi jangka panjang menuju pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Editor : A. Nandar
Sumber Berita: Kemenkeu RI
































Tinggalkan Balasan