Diduga Jadi Korban Bullying, Siswa SD di Wonosobo Meninggal Dunia

- Penulis

Jumat, 10 Oktober 2025 - 13:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WONOSOBO – Masyarakat Kecamatan Kertek dihebohkan dengan beredarnya kabar dugaan kasus bullying yang diduga dilakukan oleh siswa SDN dikelurahan danKecamatan Kertek. Kabar itu pertama kali menyebar melalui sejumlah grup WhatsApp hingga ramai jadi perbincangan, pada Rabu (8/10) pagi.

Dalam pesan yang beredar di media sosial tersebut, disebutkan bahwa seorang anak SD di wilayah itu tengah dirawat di rumah sakit setelah diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekolahnya.

Setelah ditelusuri oleh Wartawan, Tragedi menimpa seorang siswa SD di Kecamatan Kertek, Wonosobo. TA, seorang bocah berumur 9 tahun yang saat ini masih duduk sebagai siswa kelas 3 SDN di wilayah tersebut. Ia dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari di ruang ICU RS PKU Muhammadiyah Wonosobo.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelum meninggal, bocah malang itu sempat mengaku kepada ayahnya bahwa dirinya dipukul oleh teman sekolahnya. Ayah korban, Dedi Handi Kusuma, saat ditemui di rumah duka di Desa Jambusari, menuturkan peristiwa itu bermula pada Rabu (1/10), saat korban mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di sekolahnya.

“Anak saya bilang, saat upacara dia dipukul di bagian perut oleh temannya. Setelah itu dia mengeluh sakit perut dan sesak napas,” ujarnya dengan suara lirih.

Usai kejadian, TA sempat lemas hingga sampai pulang sekolah. Namun setibanya di rumah, keluhan di bagian perut tak kunjung reda. Sang ibu pun membawa korban ke dokter dan diberi obat. Dua hari berselang, kondisi TA semakin memburuk hingga akhirnya dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Wonosobo pada Sabtu (4/10) sore.

Baca Juga:  Bupati Purworejo Lantik Dewan Kesenian 2025–2028, Dorong Penguatan Seni dan Budaya Daerah

Di hadapan dokter, TA awalnya tidak mengaku telah dipukul. Namun kemudian, kepada ayahnya, ia bercerita bahwa dirinya dipukul oleh teman sekelas saat upacara.

“Anak saya ketakutan, sampai bilang ingin pindah sekolah saja. Dari situ saya baru tahu kalau dia kemungkinan sering diperlakukan tidak baik,” ungkap Dedi.

Setelah memberi tahu dokter soal dugaan pemukulan, korban langsung mendapat perawatan intensif dan dipindahkan ke ruang ICU pada Minggu (5/10) sore. Dari hasil rontgen, diketahui terdapat cairan di paru-paru TA. Tim medis pun melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan cairan tersebut.

“Dari hasil operasi, cairan yang keluar hampir dua liter dan warnanya merah segar,” tambahnya.

Sayangnya, kondisi TA pascaoperasi justru semakin menurun. Ia sempat sadar beberapa jam, sebelum akhirnya kembali kritis dan meninggal dunia pada Selasa malam.

Baca Juga:  Gus Yahya Tegaskan Kepengurusan PBNU Tetap Solid hingga Muktamar Mendatang

Dedi mengaku anak ketiganya itu memang kerap menunjukkan perubahan sikap sejak duduk di kelas 3. Ia mulai enggan berangkat ke sekolah dan mengeluh tidak betah.

“Sekarang saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Jangan sampai ada anak lain yang mengalami nasib seperti dia,” tegasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Wonosobo AKP Arif Kristiawan, saat dikonfirmasi Rabu (8/10) melalui pesan Whatsapp mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut.

“Kasus ini masih kami dalami. Kesulitan kami saat ini karena pihak keluarga menolak dilakukan autopsi terhadap korban. Jadi kami belum bisa berbuat banyak,” terangnya.

Menurut Arif, pihak kepolisian saat ini menunggu hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit sebagai dasar pengembangan penyelidikan.

“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak rumah sakit. Terkait lokasi kejadian pun kami belum bisa memastikan apakah di lingkungan sekolah atau di tempat lain, karena belum ada saksi dan belum ada rekaman CCTV yang memperlihatkan peristiwa itu,” jelasnya.

Hingga kini, kasus dugaan kekerasan terhadap siswa SD di Kecamatan Kertek tersebut masih terus diselidiki Polres Wonosobo.

Follow WhatsApp Channel diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Viral Kesalahan Juri, MPR Minta Maaf Atas Insiden Penilaian LCC Empat Pilar 2026 Kalbar
Kemendikdasmen Beri Kepastian Nasib Guru Non-ASN hingga 2026
Cegah Pola Berulang Kasus Pencabulan Santriwati Pati, Satgas Khusus Pesantren Mendesak Dibentuk
Kasus Pencabulan Santriwati Pati: Polresta Pati Periksa Pengasuh Ponpes yang Jadi Tersangka
KRI Bima Suci Tiba di Singapura: Kapal Latih TNI AL Perkuat Diplomasi Maritim
Fakta Baru Kekerasan Daycare Yogyakarta: Pengasuh Sebut Ada Perintah Atasan
Kasus Kekerasan Daycare Yogyakarta: Polisi Tetapkan 13 Tersangka Termasuk Pengelola
Update Kasus Penganiayaan Anak di Banda Aceh: Enam Saksi Beri Keterangan

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:37 WIB

Viral Kesalahan Juri, MPR Minta Maaf Atas Insiden Penilaian LCC Empat Pilar 2026 Kalbar

Sabtu, 9 Mei 2026 - 19:51 WIB

Kemendikdasmen Beri Kepastian Nasib Guru Non-ASN hingga 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:16 WIB

Cegah Pola Berulang Kasus Pencabulan Santriwati Pati, Satgas Khusus Pesantren Mendesak Dibentuk

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:23 WIB

Kasus Pencabulan Santriwati Pati: Polresta Pati Periksa Pengasuh Ponpes yang Jadi Tersangka

Kamis, 30 April 2026 - 10:43 WIB

Fakta Baru Kekerasan Daycare Yogyakarta: Pengasuh Sebut Ada Perintah Atasan

Berita Terbaru