WONOSOBO – Masyarakat Kecamatan Kertek dihebohkan dengan beredarnya kabar dugaan kasus bullying yang diduga dilakukan oleh siswa SDN dikelurahan danKecamatan Kertek. Kabar itu pertama kali menyebar melalui sejumlah grup WhatsApp hingga ramai jadi perbincangan, pada Rabu (8/10) pagi.
Dalam pesan yang beredar di media sosial tersebut, disebutkan bahwa seorang anak SD di wilayah itu tengah dirawat di rumah sakit setelah diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekolahnya.
Setelah ditelusuri oleh Wartawan, Tragedi menimpa seorang siswa SD di Kecamatan Kertek, Wonosobo. TA, seorang bocah berumur 9 tahun yang saat ini masih duduk sebagai siswa kelas 3 SDN di wilayah tersebut. Ia dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari di ruang ICU RS PKU Muhammadiyah Wonosobo.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelum meninggal, bocah malang itu sempat mengaku kepada ayahnya bahwa dirinya dipukul oleh teman sekolahnya. Ayah korban, Dedi Handi Kusuma, saat ditemui di rumah duka di Desa Jambusari, menuturkan peristiwa itu bermula pada Rabu (1/10), saat korban mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di sekolahnya.
“Anak saya bilang, saat upacara dia dipukul di bagian perut oleh temannya. Setelah itu dia mengeluh sakit perut dan sesak napas,” ujarnya dengan suara lirih.
Usai kejadian, TA sempat lemas hingga sampai pulang sekolah. Namun setibanya di rumah, keluhan di bagian perut tak kunjung reda. Sang ibu pun membawa korban ke dokter dan diberi obat. Dua hari berselang, kondisi TA semakin memburuk hingga akhirnya dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Wonosobo pada Sabtu (4/10) sore.
Di hadapan dokter, TA awalnya tidak mengaku telah dipukul. Namun kemudian, kepada ayahnya, ia bercerita bahwa dirinya dipukul oleh teman sekelas saat upacara.
“Anak saya ketakutan, sampai bilang ingin pindah sekolah saja. Dari situ saya baru tahu kalau dia kemungkinan sering diperlakukan tidak baik,” ungkap Dedi.
Setelah memberi tahu dokter soal dugaan pemukulan, korban langsung mendapat perawatan intensif dan dipindahkan ke ruang ICU pada Minggu (5/10) sore. Dari hasil rontgen, diketahui terdapat cairan di paru-paru TA. Tim medis pun melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan cairan tersebut.
“Dari hasil operasi, cairan yang keluar hampir dua liter dan warnanya merah segar,” tambahnya.
Sayangnya, kondisi TA pascaoperasi justru semakin menurun. Ia sempat sadar beberapa jam, sebelum akhirnya kembali kritis dan meninggal dunia pada Selasa malam.
Dedi mengaku anak ketiganya itu memang kerap menunjukkan perubahan sikap sejak duduk di kelas 3. Ia mulai enggan berangkat ke sekolah dan mengeluh tidak betah.
“Sekarang saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Jangan sampai ada anak lain yang mengalami nasib seperti dia,” tegasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Wonosobo AKP Arif Kristiawan, saat dikonfirmasi Rabu (8/10) melalui pesan Whatsapp mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut.
“Kasus ini masih kami dalami. Kesulitan kami saat ini karena pihak keluarga menolak dilakukan autopsi terhadap korban. Jadi kami belum bisa berbuat banyak,” terangnya.
Menurut Arif, pihak kepolisian saat ini menunggu hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit sebagai dasar pengembangan penyelidikan.
“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak rumah sakit. Terkait lokasi kejadian pun kami belum bisa memastikan apakah di lingkungan sekolah atau di tempat lain, karena belum ada saksi dan belum ada rekaman CCTV yang memperlihatkan peristiwa itu,” jelasnya.
Hingga kini, kasus dugaan kekerasan terhadap siswa SD di Kecamatan Kertek tersebut masih terus diselidiki Polres Wonosobo.






























Tinggalkan Balasan