“Dari awal kami tidak menuntut honor. Yang paling penting adalah tanggung jawab dan keberlanjutan usaha agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” tuturnya bersama Direktur Keuangan, Saringat Oka.
Modal kerja BUMDes saat ini mencapai sekitar Rp90 juta dari hasil usaha beberapa tahun terakhir. Tahun 2025, lembaga ini juga menerima dukungan dana Rp186 juta dari program ketahanan pangan desa, yang difokuskan untuk memperkuat usaha peternakan ayam dan revitalisasi jaringan PAM Desa bernilai Rp70 juta.
Pada 2024, kontribusinya terhadap pendapatan asli desa (PADes) telah meningkat signifikan hingga puluhan juta rupiah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami memang belum besar, tapi BUMDes sekarang sudah hidup dari hasil usaha sendiri,” kata Rozi.
PAM Desa menjadi unit usaha paling produktif dengan lebih dari 200 pelanggan rumah tangga. Pengelolaannya kini sudah berbasis digital, menggunakan water meter dan sistem pencatatan serta penagihan melalui aplikasi.
Tarif air diberlakukan berjenjang, dari Rp500 per meter kubik bagi pelanggan kecil hingga Rp2.000 untuk penggunaan besar. Mekanisme ini diharapkan menjadi bentuk subsidi silang agar tetap adil bagi warga berpendapatan rendah.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
































Tinggalkan Balasan