PURWOREJO – Seorang pengrajin difabel Purworejo, Muhammad Yashtari (43), warga Desa Semawung, Kecamatan Purworejo, mencuri perhatian dengan karya unik berupa miniatur rumah bambu bernilai seni tinggi.
Meski menyandang disabilitas, Yashtari tetap berupaya mandiri untuk membantu ekonomi keluarga sekaligus menggerakkan pemberdayaan para penyandang difabel di wilayahnya.
Awal mula Yashtari menekuni kerajinan miniatur rumah bambu bermula dari keisengannya membuat kandang jangkrik berbentuk rumah kecil. Dari situlah muncul ide untuk mengembangkan model rumah adat hingga rumah semi modern.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awalnya cuma pengin bikin kandang jangkrik tapi bentuknya rumah kecil. Dari situ saya terpikir bikin rumah adat dan model-model lain,” ujar Yashtari saat ditemui di kediamannya.
Seluruh bahan utama karya seni tersebut berasal dari bambu bekas yang tidak lagi terpakai. Untuk memperindah tampilan, ia menambahkan mika pada bagian jendela dan pintu serta melapisi hasil akhirnya dengan pelitur.
Proses pembuatan satu unit miniatur rumah bambu memerlukan waktu sekitar satu minggu, belum termasuk tahap finishing.
Harga miniatur buatan Yashtari bervariasi antara Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Untuk pesanan khusus dengan detail bongkar pasang pada dinding, harga dapat mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta per unit.
“Kalau ada pesanan ya saya buatkan. Tapi tetap melihat waktu juga karena selain membuat kerajinan ini, saya juga aktif di organisasi,” katanya.
Hingga saat ini, setidaknya dua unit miniatur rumah bambu telah terjual dengan harga Rp250 ribu dan Rp400 ribu. Pemasaran dilakukan melalui pameran, media sosial, serta penjualan daring melalui toko rekanannya.
Yashtari juga kerap berpartisipasi dalam ekspo tingkat kecamatan, kabupaten, hingga pameran di Yogyakarta.
Selain dikenal sebagai pengrajin difabel Purworejo, Yashtari aktif dalam organisasi penyandang disabilitas. Ia menjabat sebagai Ketua Disabilitas Desa (KDD) Semawung dan Ketua Disability People Organization (DPO) Kecamatan Purworejo. Ia juga mendampingi dua desa dan satu kelurahan dalam kegiatan pemberdayaan difabel.
“Bagi saya, seni ini bukan hanya soal hasil, tapi juga tentang semangat dan kemandirian. Kami ingin tunjukkan bahwa teman-teman difabel juga bisa produktif,” tutur Yashtari.
Ia menilai bahwa kerajinan rumah bambu termasuk karya seni yang membutuhkan apresiasi khusus. Karena bukan kebutuhan pokok, penjualan produk sangat bergantung pada minat dan nilai seni yang dipahami calon pembeli.
“Ini kan seni ya, bukan kebutuhan sehari-hari. Jadi kalau ketemunya dengan orang yang sama-sama suka seni, nilai jualnya bisa tinggi. Saya masih terus belajar,” ujarnya rendah hati.
Harapan untuk Dukungan dan ApresiasiYashtari berharap semakin banyak pihak yang memberi dukungan terhadap karya lokal dari pengrajin difabel Purworejo. Dukungan ini diharapkan tidak hanya berbentuk apresiasi moral, tetapi juga dukungan pemasaran dan akses pelatihan keterampilan.
Ia ingin agar kerajinan miniatur rumah bambu tidak berhenti sebagai hobi, tetapi bisa menjadi sumber penghasilan berkelanjutan bagi komunitas disabilitas.
“Kalau ada dukungan lebih luas, tentu bisa membuka lapangan kerja baru bagi penyandang disabilitas lainnya,” kata Yashtari.
Miniatur rumah bambu karya Yashtari menjadi contoh nyata bahwa seni dan ekonomi dapat berjalan beriringan, bahkan di tengah keterbatasan fisik. Karya-karyanya menunjukkan bahwa produktivitas dan kreativitas tidak dibatasi oleh kondisi, melainkan oleh kemauan untuk terus berkreasi.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
































Tinggalkan Balasan