“Tembang macapat mengajarkan proses kehidupan manusia. Banyak pesan moral yang bisa menjadi pedoman hidup. Budaya Jawa juga mengajarkan bagaimana kita menjaga tata krama dalam bergaul dengan sesama,” tutur Paiman.
Momen yang paling mengharukan terjadi saat warga bersama-sama mengikuti doa lintas agama. Doa dipimpin secara bergantian oleh tokoh dari masing-masing agama yang ada di lingkungan tersebut. Paiman memimpin doa secara Islam, dilanjutkan Antonius Parmin dengan doa Katolik, dan ditutup doa Buddha yang dipimpin Gatot Didit Widiyantoro.
Ketua RT 2 RW 1 Desa Kemanukan, Antonius Parmin, mengatakan bahwa tradisi kebersamaan seperti ini akan terus dipertahankan karena menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, awal Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa menjadi momentum yang tepat untuk memanjatkan harapan agar kehidupan masyarakat semakin damai, sehat, aman, dan sejahtera.
“Yang kami jaga selama ini adalah rasa persaudaraan. Walaupun berbeda agama, kami tetap satu lingkungan dan satu keluarga besar. Semoga di tahun yang baru ini seluruh warga diberikan kesehatan, keselamatan, serta semakin kuat dalam menjaga kebersamaan,” ungkapnya.
Melalui kerja bakti dan doa bersama tersebut, warga Gardu 21 tidak hanya membersihkan lingkungan dari sampah dan rumput liar. Mereka juga merawat nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan gotong royong yang menjadi fondasi kuat kehidupan bermasyarakat di tengah keberagaman.
Penulis : A.L Khakim
Editor : Luthfi











Tinggalkan Balasan