“Kerja bakti bersama sudah menjadi budaya di lingkungan kami. Menjelang Idulfitri, Natal maupun Waisak, warga selalu bergotong royong membersihkan lingkungan sekaligus mempererat hubungan sosial,” katanya.
Menurutnya, perbedaan agama yang ada di lingkungan Gardu 21 tidak pernah menjadi hambatan dalam berinteraksi maupun bekerja sama.
“Kami percaya bahwa perbedaan adalah anugerah. Yang terpenting adalah bagaimana kami bisa saling menghormati dan hidup berdampingan dengan damai,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan kerja bakti dimulai pukul 06.00 WIB dengan membersihkan area rumah masing-masing. Selanjutnya pada pukul 08.00 WIB, warga bergerak bersama menyusuri jalan lingkungan menuju Gardu 21 sambil membersihkan selokan, menyapu jalan, dan menyingkirkan rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalur kampung.
Agar pekerjaan berjalan lebih cepat dan efektif, warga membagi tugas sesuai kemampuan. Kaum laki-laki menangani pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih besar, sementara kaum perempuan membersihkan area yang lebih ringan. Anak-anak pun turut ambil bagian sebagai bentuk pembelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan kebersamaan.
Usai kerja bakti, warga berkumpul di Gardu 21 untuk mengikuti refleksi budaya dan doa bersama. Sesepuh warga, Paiman, menyampaikan petuah tentang nilai-nilai luhur budaya Jawa yang masih relevan di tengah perkembangan zaman.
Ia menjelaskan bahwa tembang macapat mengandung banyak pelajaran tentang perjalanan hidup manusia, sementara tata bahasa Jawa mengajarkan pentingnya sopan santun dan penghormatan kepada sesama.
Penulis : A.L Khakim
Editor : Luthfi
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











Tinggalkan Balasan