SUMATRA – Sudah lebih dari dua pekan banjir besar merendam sebagian wilayah Langkat, Sumatera Utara, dan Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Hingga awal pekan ini, genangan air di sejumlah desa belum juga surut. Listrik padam, akses jalan rusak, dan ribuan warga masih bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas.
Di sepanjang jalan antara Besitang dan Kuala Simpang, tampak warga, termasuk anak-anak, berdiri di tepi jalan menantikan bantuan. Bau lumpur bercampur sisa material bangunan yang ambruk memperlihatkan betapa hebat dampak bencana ini.
Sejumlah lembaga dan komunitas telah turun langsung menyalurkan bantuan, termasuk SKPI dan Jakarta Connection. Namun, menurut laporan tim relawan, situasi di lapangan masih jauh dari normal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Banyak desa belum tersentuh bantuan karena terisolasi oleh rusaknya jembatan dan padamnya listrik. Warga bertahan dengan logistik seadanya,” kata Faisal Andri Mahrawa, pendiri SKPI.
Hal senada disampaikan Muhammad Iqbal dari Jakarta Connection. Ia menyebut penyaluran bantuan di Aceh Tamiang mengalami kendala karena akses dari Banda Aceh terputus.
“Wilayah ini lebih mudah dijangkau dari Sumatera Utara, tapi tetap sulit karena beberapa ruas jalan terendam. Kondisinya sangat menyesakkan hati,” ujarnya.
Warga berharap bantuan terus mengalir, terutama kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan siap saji, serta perlengkapan bayi dan lansia. Meski banjir mulai berangsur surut di beberapa titik, sebagian besar pengungsi masih belum bisa kembali ke rumah karena kondisi sanitasi dan lingkungan yang belum aman.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
































Tinggalkan Balasan