Alunannya memadukan bunyi ‘tek’, ‘dug’ dan ‘dung’ yang mengiringi lantunan sholawat penuh makna. Dusun Tegal di Desa Karangwuluh, Kecamatan Kutoarjo, menjadi salah satu tempat di mana kesenian Kencrengan masih hidup kuat.
Menurut tokoh masyarakat setempat, tradisi ini sudah ada sejak sebelum masa kemerdekaan dan dipercaya berasal dari fase awal penyebaran Islam di Jawa.
Kencrengan di Dusun Tegal sempat nyaris hilang karena minim penerus, namun kemudian dihidupkan kembali oleh generasi muda yang belajar di pesantren. Kini, setiap malam Minggu, warga rutin menggelar pembacaan Al-Barzanji yang diiringi tabuhan Kencrengan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dengan acara seperti ini, anak muda bisa lebih terarah. Mereka ikut bershalawat, bukan nongkrong tanpa arah,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Selain dalam kegiatan religius, Kencrengan juga digunakan sebagai penanda waktu salat atau pengiring acara seperti khitanan dan khataman Al-Qur’an.
Kesenian Kencrengan tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan spiritualitas. Para pemain belajar tentang kekompakan, kesabaran, dan saling menghargai.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya
















Tinggalkan Balasan