“Dampaknya cukup positif. Warga senang karena banyak tamu menginap, membeli produk lokal, dan menambah semarak suasana desa,” katanya.
Pengamat budaya sekaligus pegiat Kapribaden, Sudarto, menyebut Kirap Agung Romo Semono bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bentuk penghayatan terhadap warisan spiritual Romo Semono.
“Kirap ini adalah penghatur sembah kepada ajaran beliau. Ini cara para putro mengingat pesan Romo tentang hidup yang berkesadaran dan selaras. Dulu, semasa beliau masih hidup, banyak orang diangkat sebagai putro. Kirap ini bentuk kesetiaan pada ajaran dan leluhur,” jelas Sudarto.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Sudarto, nilai-nilai Kapribaden yang diwariskan Romo Semono menekankan kesadaran diri (eling lan waspada), introspeksi, dan keseimbangan antara manusia dengan lingkungan.
“Kapribaden itu praktik laku, bukan wacana. Melalui kirap seperti ini, ajaran dan praktiknya tetap tersambung dalam keseharian para penghayat,” tambahnya.
Rangkaian Kirap Agung Romo Semono ditutup dengan doa bersama di makam sang guru spiritual di kompleks pemakaman Desa Trirejo. Para pengikut memanjatkan doa bagi keselamatan seluruh kadang sepiritual, masyarakat Trirejo, dan bangsa Indonesia yang tengah memasuki musim penghujan.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















Tinggalkan Balasan