12 Sep 2026
instagram youtube tiktok linkedin pinterest

12 Sep 2026

Marrystone Culture Carnival: Ketika Kebudayaan Tumbuh dan Berakar di Desa

- Penulis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WONOSOBO, DiengPost.com – Semangat kemerdekaan kembali menemukan ruang ekspresinya yang paling hangat di tingkat akar rumput. Jalan-jalan kampung di Desa Selokromo, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, tumpah ruah oleh aneka warna, kreativitas, dan kegembiraan warga saat digelarnya Marrystone Culture Carnival (MCC) ke-8 pada Minggu (23/8/2026).

Nama Marrystone sendiri menyimpan keunikan tersendiri. Di balik istilah yang terkesan modern tersebut, terdapat plesetan lokal yang jenaka dari nama “Selokromo” di mana selo berarti batu (stone) dan kromo merujuk pada pernikahan (marry). Di balik humor segar nama tersebut, esensi yang dihadirkan murni memperlihatkan kekuatan kebudayaan serta kerukunan warga desa.

Baca Juga:  Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen Terhenti di Semifinal Ganda Nottingham Open 2026

Sembilan RW terlibat aktif memamerkan hasil karya dan atraksi seni mereka. Mengangkat tema Budaya Nusantara, para peserta melakukan pertunjukan awal di balai desa sebelum menyusuri rute kampung. Menariknya, perhelatan ini tidak mengandalkan kelompok seniman bayaran, melainkan murni lahir dari semangat gotong royong dan swadaya masyarakat setempat.

Kepala Desa Selokromo, Wahyu, menegaskan bahwa tingginya partisipasi masyarakat menjadi cermin kuatnya silaturahmi warga.

“Marrystone Culture Carnival ini bukan hanya kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan, gotong royong, dan kerukunan seluruh warga Desa Selokromo,” ujar Wahyu.

Baca Juga:  Lari Pagi di Dataran Tinggi : Menyatu dengan Alam, Menjaga Vitalitas

Fenomena ini memberikan catatan penting bagi penguatan pariwisata berbasis komunitas di Wonosobo. Di saat pengembangan wisata kerap diidentikkan dengan pembangunan infrastruktur fisik berbiaya besar, Desa Selokromo membuktikan bahwa daya tarik budaya paling hidup justru bersumber dari konsistensi warga dalam merawat tradisi dan ruang perjumpaan bersama.

Pandangan serupa juga disampaikan Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Edi Santoso. Menurutnya, desa memiliki potensi tradisi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata daerah.

Penulis : A. Nandar

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Pordasi : Ekosistem Industri Berkuda Indonesia Makin Tumbuh Positif
FORKI Lampung Gelar Gubernur Cup, Seleksi Atlet Menuju Kejurnas Karate
Putra Zlatan, Maximilian Ibrahimovic Resmi Gabung Ajax Amsterdam
PSSI Tunjuk Eks Pelatih Kanada, Fokus Bangun Timnas Menuju 2026
Lari Pagi di Dataran Tinggi : Menyatu dengan Alam, Menjaga Vitalitas
SEA Games 2025 Jadi Ajang Uji Menuju Olimpiade 2028, Indonesia Kirim 996 Atlet ke Thailand
Kontingen Indonesia Tampil Percaya Diri di Pembukaan Asean School Games 2025 Brunei
Anggaran Naik Jadi Rp66 Miliar, Kemenpora Pasang Target 80 Emas di SEA Games 2025

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:08 WIB

Marrystone Culture Carnival: Ketika Kebudayaan Tumbuh dan Berakar di Desa

Sabtu, 17 Januari 2026 - 09:30 WIB

Pordasi : Ekosistem Industri Berkuda Indonesia Makin Tumbuh Positif

Jumat, 16 Januari 2026 - 22:14 WIB

FORKI Lampung Gelar Gubernur Cup, Seleksi Atlet Menuju Kejurnas Karate

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:02 WIB

Putra Zlatan, Maximilian Ibrahimovic Resmi Gabung Ajax Amsterdam

Minggu, 4 Januari 2026 - 12:26 WIB

PSSI Tunjuk Eks Pelatih Kanada, Fokus Bangun Timnas Menuju 2026

Berita Terbaru